ORBITAL
DAN PERANANNYA DALAM IKATAN KOVALEN
Orbital molekul adalah orbital-orbital dari dua atom yang saling tumpang tindih agar dapat menghasilkan ikatan kovalen. "Ikatan kovalen yang digambarkan oleh teori tolakan pasangan elektron kulit valensi (Valence Shell Electron-Pair Repulsion-VSEPR), sangat signifikan dalam menjelaskan atau meramalkan struktur geometri suatu molekul sekalipun tidak melibatkan aspek matematik. Perkembangan teori orbital molekuler (Moleculer Orbital Theory-MOT) pada mulanya dipelopori oleh Hund dan Mulliken. Seperti halnya pada senyawa-senyawa sederhana, konsep orbital molekular juga dapat diterapkan pada senyawa kompleks. Namun dapat disederhanakan dengan hanya mempertimbangkan orbital-orbital atomik yang benar-benar berperan dalam pembentukan orbital molekuler (OM) yaitu orbital 3d, 4s, dan 4p bagi atom pusat dari logam transisi seri pertama dan orbital s-p atau bentuk hibridisasinya bagi atom donor dari ligan yang bersangkutan".
A. Sifat Gelombang
a.Sifat Gelombang
Dualisme cahaya diterapkan oleh de Broglie terhadap
elektron yang bergerak mengelilingi inti. Sifat gelombang dari elektron ini
kemudian mengakibatkan adanya ketaktentuan dari kedudukan elektron sekeliling
inti, yang diterangkan berdasarkan Prinsip Ketaktentuan dari Heisenberg.Dengan
dasar gerak gelombang dari elektron, Schrodinger kemudian menurunkan persamaan
gelombang berdasarkan mekanika gelombang. Dalam penurunan persamaannya, maka
koordinat Cartes yang umum digunakan untuk menggambarkan materi dalam tiga
dimensi, diubah menjadi koordinat polar. Penyelesaiannya menghasilkan suatu
fungsi gelombang yang terdiri dari fungsi sudut dan fungsi radial. Kedua fungsi
tersebut mempunyai arti fisik.
Dengan persamaan Schrodinger dapat diturunkan pula
tingkat-tingkat energi serta bilangan kuantum bagi elektron. Dengan menggunakan
Prinsip Eksklusi dari Pauli, setiap elektron dalam masing-masing tingkat energi
dapat diterangkan dengan menggunakan Prinsip Aufbau.Dasar teori kuantum dapat
digunakan pula untuk menerangkan struktur dari Susunan Berkala dan demikian
pula menerangkan keperiodikan dari sifat fisik dan kimia dari
unsur-unsur.Transisi antara tingkat-tingkat energi berlangsung dalam radiasi
elektromagnetik dari absorpsi maupun emisi. Aturan transisi ini akan dibahas
dalam spektrum atom.
Konsep kebolehjadian dapat diterapkan pada pola
difraksi elektron. cincin-cincin difraksi adalah daerah dengan kebolehjadian
yang tinggi. Rapat elektron berbanding lurus dengan kuadrat faktor amplitudo
yang didapat dari persamaan gelombang. Sifat khas gerak gelombang adalah
kemampuannya untuk meneruskan energi dari satu titik ke titik lain tanpa
perpindahan permanen dari mediumnya. Gelombang ini disebut gelombang
progresif (Gb. 2.1).
Suatu persamaan gelombang dinyatakan sebagai berikut:
∂2/∂x2 = 1/c2 ∂2Ï•/∂r2
(2-6)
dimana Ï• = a sin 2Ï€ (x/λ – vt), v adalah frekuensi, a
adalah nilai maksimum dari amplitudo, c adalah kecepatan perambatan. Persamaan
(2-6) adalah linier, maka dengan Prinsip Superposisi dua persamaan
dengan ϕ1 dan ϕ2 dapat dikombinasi linier. Untuk
gelombang ϕ1 dan ϕ2:
∂2Ï•1/∂x2 = 1/c2
∂2Ï•2/∂t2 dan ∂2Ï•2/∂x2
= 1/c2 ∂2Ï•2/∂t2
Kombinasi linier menghasilkan:
∂2(a1Ï•1 + a2Ï•2)/
∂x2 = a1 ∂2Ï•1/∂x2 + a2
∂2Ï•2/∂x2
= 1/c2 {a1 ∂2Ï•1/∂t2
+ a2 ∂2Ï•2/∂t2} = 1/c2 ∂2(a1Ï•1
+ a2Ï•2)/ ∂x2
(2-7).
Prinsip superposisi ini sekarang digunakan untuk
vibrasi tali gitar antara dua titik tertentu atau dua titik mati. Untuk
gelombang progresif dari kiri ke kanan persamaan gelombangnya:
Ï•1 = a sin 2Ï€ (x/λ – vt) (2-8)
setelah mencapai ujung, gelombang direfleksi dan
berjalan kembali dari kanan ke kiri dengan persamaan gelombang:
Ï•2 = a sin 2Ï€ (x/λ – vt) (2-9)
Gerak gelombang total dinyatakan dengan persamaan:
Ï• = Ï•1 + Ï•2 = a sin 2Ï€ (x/λ –
vt) + a sin 2π (x/λ + vt) (2-10).
Untuk gelombang tegak atau gelombang
stasioner, bila ϕ = 0, maka sin 2π x/λ = 0, yaitu bila:
2πx/λ = nπ dan x =
nλ/2
(2-11).
n ialah bilangan bulat (Gb. 2.1).
Gelombang stasioner dapat menggambarkan gerak
gelombang dari elektron sekeliling inti dalam atom. Agar terjadi interferensi
konstruktif dari gelombang de Broglie dengan elektron dalam lintasan Bohr, maka
harus dipenuhi hubungan:
2Ï€r =
nλ
(2-12).
Substitusi persamaan (2-3) ke dalam persamaan (2-12)
menghasilkan:
Mvr = n h/2Ï€; n = 1, 2, 3, …
(2-13). n ialah bilangan kuantum utama
B.
Orbital Ikatan dan Anti Ikatan
Menurut
teori orbital molekul, orbital molekul dihasilkan dari interaksi antara dua
atau lebih orbital atom. Terjadinya tumpang tidih suatu orbital mengarah pada
pembentukan dua orbital atom : satu orbital molekul ikatan dan satu
orbital molekul antiikatan. Orbital molekul ikatan (bonding molecular orbital)
memiliki energi yang lebih rendah dan kestabilan yang lebih besar dibandingkan
dengan orbital atom pembentuknya. Orbital molekul antiikatan (antibonding
molecular orbital) memiliki energi yang lebih tinggi dan kestabilan yang lebih
rendah dibandingkan dengan orbital-orbital atom pembentuknya.
Teori
orbital molekul (OM) menggambarkan ikatan kovalen melalui istilah orbital
molekul yang dihasilkan dari interaksi orbital-orbital atom dari atom-atom
yang berikatan dan yang terkait dengan molekul secara keseluruhan (lischer,
2009). Konstruksi orbital molekul dari orbital atom, ibagian dalam pembentukan
molekul. Separuh dari orbital molekul mempunyai energi yang lebih besar
daripada energi orbital atom. Orbital yang dibentuk yaitu orbital molekul
pengikatan (bonding) dan orbital molekul antiikatan (anti bonding). Elektron
yang tidak mengambil bagian dalam pengikatan disebut elektron tidak berikatan
(nonbonding) dan mempunyai energy yang sama dengan energy yang dimiliki
atom-atom yang terpisah. Energi –energi relatif dari setiap jenis orbital
secara umum terlihat pada gambar 2 berikut ini (Dogra, 1990):
Orbital atom yang mengambil bagian dalam pembentukan
orbital molekul harus memenuhi persyaratan sebgai berikut:
1.
Orbital atom yang membentuk orbital molekulm harus mempunyai energi yang dapat
dibandingkan.
2.
Fungsi gelombang dari masing-masing orbital atom harus bertumpang tindih dalam
ruangan sebanyak mungkin..
3.
Fungsi gelombang orbital atom harus mempunyai simetri yang relatif sama dengan
sumbu molekul.
Yang
paling umum membentuk orbital molekul adalah σ (sigma) dan orbital π (pi).
Orbital sigma simetris disekitar sumbu antarnuklir. Penampang tegak lurus
terhadap sumbu nuklir (biasanya sumbu x) memberikan suatu bentuk elips. Ini
terbentuk dari orbital s maupun dari p dan orbital d yang mempunyai telinga
sepanjang sumbu antar nuklir. Orbital π terbentuk ketika orbital p pada setiap
atom mengarah tegak lurus terhadap sumbu antarnuklir. Daerah tumpang tindih ada
di atas dan di bawah sumbu ikatan (lihat gambar 3).
Gambar 3. Bentuk orbital molekul yang terbentuk dari
orbital atom
C. Orbital Hibrida Karbon
Hibridasi
adalah konsep pencampuran orbital atom menjadi orbital hibrida yang sesuai
dengan pasangan elekton untuk membentuk ikatan kimia. Orbital hibrida biasanya
mempunyai perbedaan energi dan bentuk. Hibridasi berguna untuk menjelaskan
struktur molekuler ketika teori ikatan valensi gagal untuk menjelaskan.
Karbon
merupakan contoh yang baik untuk penjelasan orbital hibrida. Konfigurasi atom
karbon dalam keadaan ground state adalah
Berdasarkan
teori ikatan valensi, karbon seharusnya membentuk ikatan kovalen, menghasilkan
CH2, karena karbon mempunyai dua elektron tak berpasangan secara
konfigurasi elektron. Meskipun demikian, melalui eksperimen dapat ditunjukkan
bahwa CH2 bersifat sangat reaktif dan tidak dapat terbentuk setelah
akhir reaksi (meskipun hal ini juga tidak menjelaskan bagaimana CH4 dapat
terbentuk ). Untuk membentuk empat ikatan, konfigurasi karbon harus mempunyai
empat elektron tidak berpasangan.
Dengan
demikian karbon telah mempunyai empat elektron tidak berpasangan, sehingga
mempunyai empat energi ikatan yang sama. Hibridisasi orbital juga lebih disukai
karena mempunyai energi yang lebih kecil dibandingkan dengan orbital terpisah.
Hal tersebut menghasilkan senyawa yang lebih stabil ketika terjadi hibridisasi
dan ikatan yang terbentuk juga lebih baik.
Hibridisasi
sp3
Hibridisasi
sp3 dapat menjelaskan struktur molekul tetrahedral. Orbital 2s dan
tiga orbital 2p melakukan hibridisasi untuk membentuk empat orbital sp,
masing-masing terdiri dari 75% karakter p dan 25%
karakter s. Cuping depan mensejajarkan diri dan penolakan electron bersifat
lemah.
Hibridisasi satu orbital s dengan tiga orbital p (px,
py, dan pz) menghasilkan empat orbital hibrida sp3
yang mempunyai sudut sebesar 109,5˚ satu sama lain sehingga membentuk
geometri tetrahedral.
Hibridisasi sp2
Hibridisasi sp2 berguna untuk menjelaskan
bentuk struktur molekul trigonal planar. Orbital 2s dan dua orbital 2p
melakukan hibridisasi membentuk tiga orbital sp, masing – masing terdiri dari
67% karakter p dan 33% karakter s. Cuping depan mensejajarkan diri membentuk
trigonal (segitiga) planar, menghadap sudut segitiga untuk meminimalisasi
penolakan elektron.
Hibridisasi satu orbital s dan dua orbital p
menghasilkan tiga orbital hibrida sp2 yang berorientasi dengan sudut
sebesar 120˚ satu sama lain sehingga membentuk geometri trigonal (segitiga).
Hibridasi sp
Hibridasi sp dapat digunakan untuk menjelaskan
struktur molekul linier. Orbital 2s dan satu orbital 2p melakukan hibridisasi
membentuk dua orbital sp, masing – masing
terdiri dari 50% karakter p dan 50% karakter s.
Cuping depan berhadapan satu sama lain dan membentuk
garis lurus 180˚ antara dua orbital.
kenapa orbital atom yang membentuk orbital molekul harus mempunyai energi yang harus dibandingka?
Menurut teori orbital molekul, orbital molekul dihasilkan dari interaksi antara dua atau lebih orbital atom. Terjadinya tumpang tidih suatu orbital mengarah pada pembentukan dua orbital atom : satu orbital molekul ikatan dan satu orbital molekul antiikatan. Orbital molekul ikatan (bonding molecular orbital) memiliki energi yang lebih rendah dan kestabilan yang lebih besar dibandingkan dengan orbital atom pembentuknya. Orbital molekul antiikatan (antibonding molecular orbital) memiliki energi yang lebih tinggi dan kestabilan yang lebih rendah dibandingkan dengan orbital-orbital atom pembentuknya. Menurut penjelasan ini orbital atom yang membentuk orbital molekul harus mempunyai energi yang harus dibandingkan karena hal tersebut akan menentukan yang mana orbital ikatan dan yang mana orbital antiikatan






Apakah perbedaan antara hibridasi sp³ dengan sp²? Tolong jelaskan
BalasHapusBaiklah saya akan mencoba menjawab pertnyaan gustiyawati Menurut saya,Dalam hibridisasi sp, orbital 2s digabung dengan salah satu orbital 2p (misalnya 2px) untuk
Hapusmemberikan energi dua orbital hibrida sp yang sama. Dan jika dalam hibridisasi sp²,orbital s digabung dengan dua orbital 2p (misalnya 2px dan 2pz) untuk memberikan tiga energi orbital hibridisasi sp² yang sama. Sedangkan dalam hibridisasi sp³, orbital 2s digabung dengan ketiga orbital 2p untuk memberikan empat set orbital hibrida sp3.
Terima kasih
apakah ada contoh lain selain sp2 yang diatas, berikan contoh senyawanya?
BalasHapusSenyawa yang termasuk orbital hibrida sp2 adalah senyawa yang tidak memiliki pasangan elektron bebas tapi punya 3 pasangan elektron ikatan.
Hapusbiasanya atom pusatnya adalah unsur yang memiliki elektron valensi 3.
contoh ₅B konfigurasi elektronnya : 1s² 2s² 2p¹
maka orbital nya adalah :
| ∧ ∨ | | ∧ ∨ | | ∧ | | |
1s² 2s² 3p¹
agar dapat bereaksi, elektron di 2s² akan mengalami eksitasi, sehingga elektron tersebut pindah ke orbital 3p¹ dan menjadi seperti ini :
| ∧ | | ∧ | ∧ | |
2s¹ 3p²
setelah itu mereka akan mengalami hibridisasi menjadi
| ∧ | ∧ | ∧ |
nah hasil hibridisasi tersebut dikenal dengan sp² karena berasal dari 1 orbital s, dan 2 orbital p.
contoh senyawa sp² adalah :
BF₃
NH₃ bukan hibridisasi sp² karena PEI nya 3 dan PEB nya 1
H₂S bukan karena PEI nya 2 dan PEB nya 2
Cl₂O bukan karena PEI nya 2 dan PEB nya 2
CS₂ bukan karena PEI nya 2 PEB nya 0
SO₂ juga bukan, karena PEI nya 2 dan PEB nya 0
Terimakasih Karlina. Saya ingin bertanya, Bagaimana hubungan Sifat gelombang dengan Orbital? Mohon di jelaskan.
BalasHapusTeori Atom Bohr
HapusPada tahun 1913, berdasarkan analisis spektrum atom dan teori kuantum yang dikemukakan oleh Max Plank, Niels Bohr mengajukan model atom hidrogen, yaitu atom yang hanya mengandung satu elektron. Menurut Bohr elektron beredar mengitari intinya pada tingkat-tingkat energi tertentu, bagaikan planet-planet mengitari matahari dan elektron dapat berpindah dari tingkat energi satu ke tingkat energi yang lain.
Model Atom Bohr mempunyai beberapa kelemahan:
Teori atom Bohr hanya dapat menerangkan spektrum atom yang saderhana, misal Hidrogen, dan tidak dapat menerangkan yang lebih rumit (nomor atom > 1)
Teori Bohr tidak dapat menjelaskan pengaruh medan magnet dalam atom hidrogen.
Oleh karena itu, tidak mungkin membayangkan elektron beredar mengitari inti menurut suatu orbit berbentuk lingkaran dengan jari- jari tertentu.
Kekurangan model atom Bohr disempurnakan dengan model atom mekanika kuantum yang dikemukakan oleh Erwin Schrodinger pada tahun 1927, seorang ilmuan dari Austria.
Teori atom mekanika kuantum
Teori Atom Mekanika Kuantum didasarkan pada dualisme sifat elektron yaitu sebagai gelombang dan sebagai partikel.
Menurut de Broglie, cahaya dapat berperilaku sebagai materi dan berperilaku sebagai gelombang (dikenal dengan istilah dualisme gelombang partikel). Menurut Heisenberg, tidak mungkin menentukan kecepatan dan posisi elektron secara bersamaan, tetapi yang dapat ditentukan hanyalah kebolehjadian menemukan elektron pada jarak tertentu dari inti.
Erwin Schrodinger mengajukan teori yang disebut teori atom mekanika kuantum ”Kedudukan elektron dalam atom tidak dapat ditentukan dengan pasti yang dapat ditentukan adalah kemungkinan menemukna elektron sebagai fungsi jarak dari inti atom”.
Daerah dangan kemungkinan terbesar ditemukan elektron disebut orbital. Orbital digambarkan berupa awan, yang tebal tipisnya menyatakan besar kecilnya kemungkinan ditemukan elektron di daerah tersebut. Kemudian Werner Heisenberg mengemukakan bahwa metode eksperimen yang digunakan untuk menemukan posisi atau momentum suatu partikel seperti elektron dapat menyebabkan perubahan, baik pada posisi, momentum atau keduanya.
Teori Schrodinger dan prinsip ketidakpastian Heisenberg melahirkan model atom mekanika kuantum sebagai berikut:
Posisi elektron dalam atom tidak dapat ditentukan dengan pasti.
Atom mempunyai kulit elektron.
Setiap kulit elektron memiliki subkulit elektron.
Setiap subkulit elektron memiliki sub-sub kulit elektron.
a) Bilangan Kuantum
Saya ingin bertanya mengapa atom karbon lebih membentuk senyawa dengan orbital hibrida dari pada dengan orbital atom yang tak berhibridisasi?
BalasHapusBaiklah saya akan mencoba menjawab pertanyaan saudari sri oktaviani Karena Pada senyawa karbon yang lebih dari sejuta banyaknya dapat dijumpai atom karbon yang terikat melalui empat pasangan elektron ikatan.
HapusJika ditinjau dari konfigurasi elektron saja, maka dapat diduga bahwa, berilium yang orbitalnya terisi penuh tidak dapat membentuk satu ikatan kovalen, sedangkan karbon hanya dapat membentuk dua ikatan kovalen.
Kontradiksi antara pengamatan eksperimen dan ramalan berdasarkan model atom, menunjukkan bahwa model orbital atom masih jauh dari sempurna untuk menjelaskan ikatan kimia.
Oleh sebab itu, penyusunan elektron dalam orbital setiap bilangan kuantum utama perlu ditata kembali. Penyusunan kembali orbital dalam sebuah atom, untuk membentuk seperangkat orbital yang ekivalen dalam molekul disebut hibridisasi.
PROSES HIBRIDISASI
Proses hibridisasi berlangsung dalam tahap-tahap berikut :
(1) Elektron mengalami promosi ke orbital yang tingkat energinya lebih tinggi. Misalnya pada Be : dari 2s ke 2p)
(2) Orbital-orbital bercampur atau berhibridisasi membentuk orbital hibrida yang ekivalen.
Contoh :C mempunyai konfigurasi elektron terluar 2s2 2p2. Satu elektron dari 2s mengalami promosi menghasilkan konfigurasi elektron 2s1 2p1x 2p1y 2p1z. Orbital 2s. 2px. 2py dan 2pz berhibridisasi membentuk 4 orbital hibrida sp3 yang ekivalen berbentuk tetrahedral.
(3) Dalam hibridisasi, yang bergabungadalah orbital bukan elektron; dan
(4) Sebagian besar orbital hibrid bentuknya mirip tetapi tidak selalu identik.